WELCOME TO PEST-INSECT-PLANT DISEASE INFO

Serangga memiliki arti penting dalam ekosistem kita. Serangga dapat menjaga aerasi tanah, menyerbukan bunga, mengendalikan serangga-hama dan juga sebagai hama tanaman; serangga juga mampu menguraikan bahan organik, sehingga mengembalikan unsur hara ke dalam tanah. Sepuluh tahun yang lalu terdapat sekitar 750.000 spesies serangga. Saat ini, jumlahnya telah melebihi 1.000.000. Dan menurut sebuah artikel baru-baru ini, Scientific American, ahli entomologi memperkirakan bahwa ada kemungkinan lebih dari delapan juta spesies serangga di Bumi. Jika anda bandingkan dengan sekitar 4.809 spesies mamalia atau 1.500.000 species jamur, maka serangga memiliki populasi yang melebihi kelompok taksonomi hidup lainnya di Bumi.

Thursday, April 07, 2011

KANIBALISME SEKSUAL: KASUS PADA BELALANG SEMBAH DAN BEBERAPA ARTHROPODA LAINNYA

APAKAH INI TERJADI SEMATA-MATA KARENA PENGARUH SELEKSI ALAM? ATAU APAKAH INI TERJADI KARENA ADANYA SELEKSI SEKSUAL? APAKAH SEBUAH PENGORBANAN DEMI KONTRIBUSI GENETIK KEPADA KETURUNANNYA ATAU HANYA SEBUAH KONTRIBUSI SEKSUAL YANG MEMBAWA MAUT?

Yos F. da Lopes. Jurusan MPLK – Politeknik Pertanian Negeri Kupang.


Kanibalisme seksual (pada Belalang Sembah dan beberapa Arthropoda) adalah kasus khusus dari kanibalisme dimana organisme betina membunuh dan mengkonsumsi jantan dari spesies yang sama sebelum, selama, atau setelah kopulasi. Pada kesempatan yang langka, peran ini dapat terbalik (Suttle, 1999; Min-Li Tsai & Chang-Feng Dai, 2003). Meskipun ada beberapa spesies dimana kanibalisme seksual adalah normal, pembalikan peran tersebut tidak normal secara keseluruhan.

Wednesday, March 23, 2011

TIPE-TIPE LARVA DALAM GAMBAR



Copyright © Yos F. da Lopez 2011 - Politeknik Pertanian Negeri Kupang
 

SISTEM REPRODUKSI PADA SERANGGA

REPRODUCTIVE SYSTEM IN INSECTS


Walaupun beragam tampilannya, organ reproduksi serangga memiliki struktur dan fungsi yang sama dengan organ reproduksi pada vertebrata: testis pada jantan menghasilkan sperma dan ovarium pada betina menghasilkan telur. Kedua jenis gamet  ini haploid dan uniseluler, tetapi telur biasanya memiliki volume yang  jauh lebih besar daripada sperma (Meyer, 2009).
Setiap  sistem reproduksi dapat bervariasi dalam bentuk (misalnya gonad dan kelenjar aksesori), posisi (misalnya tambahan kelenjar aksesori), dan jumlah (misalnya tabung ovarium atau testis, atau organ penyimpanan sperma) antara kelompok serangga yang berbeda, dan kadang-kadang bahkan di antara spesies yang berbeda dalam genus (Gullan  and Cranston,  2005). Dalam praktikum ini akan dilihat struktur dari sistem reproduksi jantan dan betina pada belalang (Orthoptera: Acrididadae).

RESPIRATORY SISTEM PADA SERANGGA



Sistem respirasi pada serangga berlangsung tanpa paru-paru dan menggunakan semcam tabung internal yang disebut trachea dan kantung udara dimana oksigen (O2) berdifusi ke dalam jaringan tubuhnya dan melepaskan kabon dioksida (CO2) yang diproduksi sebagai produk limbah dari respirasi selular. Sistem respirasi serangga (dan arthropoda lainnya) terpisah dari sistem peredaran darah. Sistem ini berupa jaringan tabung yang kompleks (disebut sistem trakea) yang memberikan udara yang mengandung oksigen ke setiap sel tubuh. Sistem trachea  ini didukung oleh beberapa organ atau jaringan penting, yaitu spirakel, trachea, tracheolus, dan kantung udara (air sacs).

SISTEM SARAF PADA SERANGGA


Seperti kebanyakan arthropoda lainnya, serangga memiliki sistem syaraf pusat yang relatif sederhana dengan otak (A) dorsal terhubung dengan tali saraf ventral (ventral nerve cord, B) yang terdiri dari segmental ganglia yang terletak sepanjang garis tengah ventral thoraks dan abdomen. Ganglia dalam setiap segmen dihubungkan satu sama lain oleh saraf medial pendek dan juga dihubungkan dengan penghubung intersegmental  (inter-segmental connectives)  menuju ganglia di segmen tubuh yang berdekatan.

MIGRATORY LOCUST: BELALANG KEMBARA


Yos F. da Lopes. Copyright © 2011.  Last updated 23 Maret 2011.
Jurusan MPLK – Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan Adisucipto Penfui P.O. Box 1152 Kupang 85001 Email: brench_copa76@yahoo.com

Kingdom: Animalia
Phylum : Arthropoda
Class: Insecta
Order: Orthoptera
Suborder: Caelifera
Family: Acrididae
Subfamily: Oedipodinae
Tribe: Locustini
Genus: Locusta
Species: migratoria

Nama Ilmiah:     Locusta migratoria (Linnaeus, 1758).
Sinonim: Locusta dancia L.; Pachytylus migratorius; P. danicus; Acridium migratorium.

Belalang kembara terdiri atas beberapa spesies utama, yaitu Locusta migratoria migratoria (Asia Barat dan Tengah, Eropa Timur), Locusta migratoria migratorioides (daratan Afrika dan pulau-pulau Atlantik), Locusta migratoria Capito (Madagaskar), Locusta migratoria manilensis (Asia Timur termasuk Indonesia), dan spesies lainnya seperti Schistocerca gregarius dan Nomadacris septemfasciata.

TIPE-TIPE LARVA SERANGGA

Larva Serangga Notodentidae (Photo oleh: Yos F. da Lopes. Ditemukan pada tanaman pohon di Kawasan Merapi)

TIPE LARVA BERDASARKAN JUMLAH KAKI
  1. Apoda, yaitu larva yang tidak berkaki. Larva apoda biasanya bergerak menggunakan gerakan peristaltik hidroskeleton tubuhnya (Gambar 1).
  2. Oligopoda, yaitu larva yang memiliki hanya 3 pasang kaki pada thoraks, misalnya, larva kumbang koksi (Gambar 2).
  3. Polipoda, yaitu larva yang berkaki lebih dari 3 pasang, baik pada thoraks (kaki sesungguhnya) maupun pada ruas abdomen (prolegs atau kaki semu), misalnya, pada kebanyakan larva ordo Lepidoptera seperti ulat jengkal (Gambar 3).
TIPE LARVA BERDASARKAN BENTUK TUBUH
  1. Campodeiform, yaitu larva yang bentuk tubuh pipih (gepeng); kaki panjang; biasanya memiliki cerci dan caudal filaments (Chu, 1949); kepala prognathous; umumnya sangat aktif dan berperan sebagai predator; misalnya, larva ordo Coleoptera seperti kumbang koksi (Coccinelidae, Gambar 2A), Dytiscidae, Carbidae, Staphylinidae.
  2. Scarabeiform, yaitu larva yang bentuk tubuhnya cylindrical dan membentuk huruf C; kepalanya hypognathous dan terbentuk dengan jelas; memiliki kaki pada toraks dan pendek; tidak memiliki proleg, (Chu, 1949); misalnya, adalah larva kumbang tanah (Coleoptera: Scarabeidae, Gambar 2B), Bruchidae, Ptinidae, Anobiidae.
  3. Carabiform, yaitu larva yang bentuknya merupakan modifikasi larva campodeiform, yang mana tubuhnya gepeng tetapi kakinya lebih pendek dan umumnya tidak memilki caudal filaments (Chu, 1949), misalnya, larva ordo Coleoptera seperti Chrysomelidae (Gambar 4), Lampyridae, Carabidae, Melyridae.
  4. Elateriform, yaitu larva yang bentuk tubuhnya cylindrical-memanjang serta dinding tubuhnya tebal dan keras; setae jauh berkurang; kaki biasanya ada tapi pendek (Chu, 1949); kepala prognathous; dan umumnya pemakan tumbuhan; misalnya, Tenebrio molitor (Coleoptera: Tenebrionidae), Elateridae (Gambar 2C), Alleculidae, Ptilodactylidae, dan Eurypogonidae.
  5. Platyform, yaitu larva dengan bentuk tubuh pendek, lebar dan gepeng (pipih); kakinya sangat pendek, inconspicuous atau absen (Chu, 1949); kepala hyphognathous; beberapa spesies mempunyai spines (duri) yang beracun; umumnya pemakan tumbuhan; misalnya, larva Limacoid (Lepidoptera: Limacodidae, Gambar 5).
  6. Eruciform, yaitu larva dengan bentuk cylindrical dengan ruas tubuh yang sangat jelas; memiliki kaki pada toraks dan proleg;  kepala hypognathous dan jelas terbentuk (Chu, 1949); kakinya sangat pendek; antena sangat kecil; misalnya, larva ordo Lepidoptera (Gambar 3A, 3B, 3C), Tenthredinidae, Mecoptera. (lihat 1,2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9)
  7. Vermiform, yaitu larva dengan bentuk tubuh yang menyerupai cacing (wormlike), cylindrical, memanjang (elongate), tanpa lokomotif appendages (Chu, 1949); apodous sehingga bergerak menggunakan gerakan peristaltik hidroskeleton tubuhnya; tidak bermata; misalnya,  sebagian besar larva ordo Diptera (Tephritidae, Gambar 1A), larva woodboring beetles, beberapa sawflies dan flea beetles genus Systena dan Epitrix, larva Hymenoptera (Formicidae, Gambar 1B dan Vespidae, Gambar 1C).

REFERENSI
  • Chen, Sicien. 1946. Evolution of Insect Larva. Transactions of the Royal Entomological Society of London 1946. 97:381-404. http://www.uky.edu/Classes/ENT/660/chen.htm. Diakses pada Tanggal 29 Januari 2011.
  • Chu, H.F. 1949. How to Know the Immature Insects. WM. C. Brown Company Publishers. Dubugue, Iowa.
  • Stehr, Frederick W. 1991. Immature Insects. Copyright ©1991 by Kendall/Hunt Publishing Company. Library of Congress Catalog Card Number: 85-81922 ISBN 0-8403-4639-5. 2460 Kerper Buolevard P.O. Box 539 Dubuque, Iowa 52004-0539.

Monday, March 21, 2011

PRADEWASA LEPIDOPTERA: DANAEIDAE

Deskripsi Singkat:
  • Karakteristik: mesothorax dan kadang segmen lainnya memiliki filaments.
  • Nama umum: Milkweed butterflies, karena kebanyakan hidup dengan memakan pada milkweeds, Asclepias sp. (Gentianales: Apocynaceae).
  • Terdapat sekitar 300 spesies tersebar di seluruh dunia. Sebagian besar ditemukan di wilayah tropis Asia dan Afrika. Empat spesies ditemukan di Amerika Utara: Monarch Butterfly (Danaus plexippus); Ratu (Danaus gilippus); Tropical Milkweed Butterfly (Lycorea cleobaea), dan Butterfly Soldier (atau "Tropic Queen"; Danaus eresimus).
  • Tipe larva eruciform/polipoda
  • Beberapa penulis mengklasifikasikan famili ini sebagai subfamili dari famili Nymphalidae. Akan tetapi, banyak penulis lain menerima klasifikasi tradisional, Danaidae, sebagai famili tersendiri. Pemisahan ini didasarkan pada kesamaan tahap awal, kebiasaan (habit) yang sama, dan sifat beracunnya (poisonous nature).
  • Habitat: Teresterial (hidup di darat). Dapat ditemukan pada semak, rumput-rumputan atau gulma pertanian.

Referensi:

Friday, March 18, 2011

DIAMONDBACK MOTH: PLUTELLA XYLOSTELLA

Larva Plutella xylostella
(Photo: Clemnson University - USDA, IPM Images)

Nama umum: Ulat daun kubis, diamondback moth
Nama ilmiah: Plutella xylostella
Filum: Arthropoda
kelas: Insecta
Odo: Lepidoptera
Famili: Plutellidae
Inang: Tanaman dalam family Brassicaceae, termasuk  broccoli, Brussels sprouts (kubis Brussel), cabbage (kol), Chinese cabbage (kubis), cauliflower (kol bunga), collard, kale, kohlrabi, mustard, lobak dan selada air.

Friday, March 04, 2011

ALIMENTARY CANAL

Sistem pencernaan serangga adalah sistem tertutup, berupa tabung tertutup yang memanjang sepanjang tubuhnya, dan disebut sebagai “alimentary canal”. Alimentary canal hanya memungkinkan makanan masuk melalui mulut, dan kemudian akan diproses saat berpindah menuju anus. Saluran pencernaan serangga memiliki bagian khusus sebagai penghancur dan penyimpanan makanan, produksi enzim dan penyerapan hara (McGavin, 2001; Triplehorn & Johnson, 2005). Pada kebanyakan serangga, alimentary canal terbagi menjadi tiga wilayah fungsional: foregut (stomodeum), midgut (mesenteron), dan hindgut (proctodeum). Selain saluran pencernaan, serangga juga memiliki pasangan kelenjar ludah (salivary glands);  reservoir saliva (saliva reservoir); saluran saliva (salivary ducts); salivarium; hypopharynx (Meyer 2009).

TETRIGIDAE DAN TETTIGONIIDAE

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur



Tetrigidae dan Tettigoniidae adalah dua family dari family-famili yang masuk dalam ordo Orthoptera. Perbedaan antara Tetrigidae dan Tettigoniidae terletak pada karakteristik pronotum dan keberadaan organ auditory dan stridulatory. Pada Tetrigoniidae, pronotum kecil memanjang, meruncing, yang dapat menutupi sayap (jika terdapat sayap), dan melampaui ujung perut (Borror et al., 1989; Allaby, 1999a; Troy, 2004a); organ auditory dan stridulatory absen (Troy, 2004a). Sedangkan, pada Tettigoniidae atau Orthoptera lainnya, pronotum pendek dan tidak melingkupi baik pada abdomen maupun sayap (Grimaldi & Engel, 2005); organ auditory berkembang dengan baik (Allaby, 1999b).

HEMIPTERA (HETEROPTERA) DAN HOMOPTERA

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Secara historis, Hemiptera dan Homoptera adalah dua ordo serangga yang dibedakan berdasarkan perbedaan dalam struktur sayap dan posisi rostrum yang kemudian digabungkan menjadi ordo Hemiptera, dengan Heteroptera/Hemiptera dan Homoptera sebagai subordonya (Webster's Online Dictionary, 2011). Anantomi dapat dilihat pada Gambar 1.

Sunday, February 06, 2011

PICTORIAL MORPHOLOGY OF IMMATURE INSECTS

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Seperti serangga pada umumnya, ngengat (moth), kupu-kupu (butterfly), dan skippers memiliki eksoskeleton dan tungkai bersendi, tetapi tidak seperti serangga lainnya, ketiga serangga ini memiliki sayap membranous (berselaput) dan ditutupi sisik berpigmen, oleh karena itu, dalam taksonomi disebut "Lepidoptera," atau "sayap bersisik." Ngengat, biasanya memiliki pola dan warna yang polos, aktif pada malam hari. Kupu-kupu, memiliki pola dan warna yang mencolok dan aktif pada siang hari. Skippers, berada pada tahap peralihan dari karakteristik baik ngengat maupun kupu-kupu. Gabungan ngengat, kupu-kupu, dan skippers mencapai dua ratus ribu spesies yang tersebar di seluruh dunia dan lebih dari 10.000 spesies terdapat di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko utara. Spesies ngengat lebih banyak daripada gabungan antara spesies kupu-kupu dan skippers, dengan perbandingan sekitar 8:1. Kupu-kupu dan skippers adalah kelompok monofiletik dalam Lepidoptera, tapi "ngengat" adalah kelompok paraphyletic (Troy, 2004c).

Friday, February 04, 2011

PERBEDAAN ANTARA NGENGAT, KUPU-KUPU DAN SKIPPERS

Yos F. da Lopes
Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Seperti serangga pada umumnya, ngengat (moth), kupu-kupu (butterfly), dan skippers memiliki eksoskeleton dan tungkai bersendi, tetapi tidak seperti serangga lainnya, ketiga serangga ini memiliki sayap membranous (berselaput) dan ditutupi sisik berpigmen, oleh karena itu, dalam taksonomi disebut "Lepidoptera," atau "sayap bersisik." Ngengat, biasanya memiliki pola dan warna yang polos, aktif pada malam hari. Kupu-kupu, memiliki pola dan warna yang mencolok dan aktif pada siang hari. Skippers, berada pada tahap peralihan dari karakteristik baik ngengat maupun kupu-kupu. Gabungan ngengat, kupu-kupu, dan skippers mencapai dua ratus ribu spesies yang tersebar di seluruh dunia dan lebih dari 10.000 spesies terdapat di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko utara. Spesies ngengat lebih banyak daripada gabungan antara spesies kupu-kupu dan skippers, dengan perbandingan sekitar 8:1. Kupu-kupu dan skippers adalah kelompok monofiletik dalam Lepidoptera, tapi "ngengat" adalah kelompok paraphyletic (Troy, 2004c).

MOLTING PADA SERANGGA: BAGAIMANA ITU TERJADI?

ALASAN - PROSES - PENGATURAN DAN PENGENDALIAN HORMON

Yos F. da Lopes - Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur


Molting atau sebut saja “pergantian kulit” adalah suatu proses yang kompleks dan dikendalikan oleh hormon-hormon tertentu dalam tubuh serangga. Molting meliputi  lapisan kutikula dinding tubuh, lapisan kutikula trakea, foregut, hindgut, dan struktur endoskeleton (McGavin 2001; Triplehorn & Johnson, 2005). Molting dapat terjadi sampai tiga atau empat kali, bahkan pada beberapa serangga tertentu, molting dapat terjadi sampai lima puluh kali atau lebih selama hidupnya (McGavin, 2001).

Mengapa serangga perlu melakukan molting atau pergantian kulit?

Serangga, termasuk arthropda lainnya (kalajengking, udang, lobster, dan lain-lain), memiliki kerangka luar yang disebut dengan eksoskeleton. Dalam pertumbuhannya, serangga akan tiba pada titik dimana otot-otot tubuhnya tidak cukup kuat untuk mengangkat massa eksoskeletonnya. Exoskeleton ini menutupi sekeliling tubuhnya, tetapi tidak dapat tumbuh. Jadi, tubuh serangga mengalami pertumbuhan (penambahan volume dan massa) tetapi eksoskeletonnya tetap pada konstruksinya atau tidak mengalami pertumbuhan. Akibatnya, serangga harus melakukan molting beberapa kali selama hidupnya agar tetap eksis dan “survive” atau bertahan hidup untuk meneruskan generasinya, suatu bentuk adapatasi yang tidak hanya rumit tetapi juga sungguh luar biasa dan mengagumkan.

Bagaimana proses molting ituterjadi?

Proses molting pada serangga, setidaknya, melewati tiga tahap, yaitu apolysis, ecdysis, dan sklerotinisasi. Ketiga tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Gambar 1)
  1. Apolysis ― Pelepasan kutikula lama. Pada tahap ini, hormon molting dilepaskan ke dalam haemolymph dan kutikula lama terpisah dari sel epidermis yang berada di bawahnya. Ukuran epidermis akan meningkat karena mitosis dan kemudian kutikula baru dihasilkan. Enzim yang disekresikan oleh sel epidermis mencerna endokutikula lama.
  2. Ecdysis ― Pembentukan kutikula baru. Tahap ini dimulai dengan pemisahan kutikula lama, biasanya dimulai pada garis tengah sisi dorsal thoraks. Pemisahan terjadi,terutama, karena tekanan haemolymph yang dipaksa masuk menuju thoraks oleh kontraksi otot abdomen yang disebabkan karena serangga menerima udara atau air. Setelah ini, serangga akan  keluar dari kutikula lama.
  3. Sclerotinisasi ― Pengerasan kutikula baru. Kutikula baru yang baru terbentuk, sangat lembut dan pucat sehingga ini merupakan saat yang sangat rentan bagi serangga. Dengan demikian, serangga harus melakukan pengerasan (hardening) terhadap kutikula baru tersebut. Sklerotinisasi terjadi setelah satu atau dua jam, dimana eksokutikula akan mengeras dan menjadi gelap. Pada serangga dewasa, sayap akan berkembang karena kekuatan haemolymph yang masuk melalui vena sayap (McGavin, 2001; Triplehorn & Johnson, 2005).

SEPERTI APAKAH SERANGGA MELAKUKAN MOLTING? SIMAK SAJA VIDEONYA

MOLTING PADA CICADA (HOMOPTERA: CICADIDAE)



VIDEO TELAH DIPERCEPAT HINGGA 200 KALI
 

Original Source:

VIDEO TELAH DIPERCEPAT HINGGA 200 KALI

Thursday, February 03, 2011

BEBERAPA FAKTA TENTANG SERANGGA

  1. Ngengat terbesar di dunia - ngengat atlas (the atlas moth) - memiliki lebar sayap sekitar 12 inci; yang terkecil - ngengat kerdil (pygmy moth) - memiliki lebar sayap sekitar sepersepuluh inci.
  2. Kupu-kupu terbesar - the goliath birdwing - memiliki lebar sayap sekitar 11 inci; yang terkecil - yang pygmy biru (the pygmy blue) - memiliki lebar sayap sekitar ¼ inci.
  3. Kupu-kupu raja (the monarch butterfly) memegang rekor untuk perjalanan serangga terjauh, bersama beberapa populasi di timur Pegunungan Rocky bermigrasi sebanyak 2.500 mil, dari Kanada selatan menuju Meksiko tengah, pada musim gugur tahun ini.
  4. Ulat beberapa spesies kupu-kupu hidup di antara semut dalam hubungan komplementer yang dikenal sebagai "mutualisme." Ulat menghasilkan cairan manis yang disukai semut hitam sebagai sumber makanannya, dan semut mengusir predator yang memangsa ulat tersebut.

    Sunday, January 30, 2011

    REGULASI ENDOKRIN PADA MOLTING SERANGGA

    Oleh: Yos F. da Lopez


    Pertumbuhan dan perkembangan serangga diselingi oleh periode molting yang diatur oleh steroid 20-hydroxyecdysone (20HE, hormon molting, ecdysterone) dan JH sesquiterpenoid (Klowden, 2007). Pada tahap dewasa, kedua hormon ini juga terlibat dalam pengaturan pematangan reproduksi (Dhadialla et al., 1997).

    Molting dan metamorfosis telah dipelajari secara ekstensif pada beberapa serangga (Nijhout, 1994; Riddiford, 1994, 1996b). Molting diawali dengan terpisahnya sel epidermis dari kutikula lama, dikenal dengan apolysis, dan berakhir dengan pembuangan kutikula lama, dikenal dengan ecdysis (Gambar 1).

    Proses molting diawali dengan peningkatan titer 20HE dan diakhiri dengan penurunan titer 20HE dan pelepasan hormon eclosion (Klowden, 2007). Peningkatan titter 20HE mengakibatkan epidermis terpisah dari kutikula lama (dikenal dengan apolysis) sehingga menciptakan ruangan antara kutikula dan epidermis (ruang eksuvial), selanjutnya ruang exuvial ruang diisi oleh cairan molting yang mengandung enzim inaktif, chitinolytic (chitinase dan protease) yang mampu mencerna kutikula lama begitu teraktivasi (Klowden, 2007). Sementara itu, sel-sel epidermis terorganisir kembali untuk sintesis sejumlah besar protein serta sekresi epikutikula dan kutikula baru. Setelah titer 20HE mulai menurun, enzim dalam cairan molting diaktifkan untuk memulai proses pencernaan prokutikula (unsclerotized endocuticle). Setelah proses ini selesai, cairan molting diresorpsi dan pengerasan pra-ecdysial kutikula baru berlangsung (Reynolds, 1987). Akhir dari proses, ketika titer 20HE menurun ke tingkat basal, kutikula lama terlepas (ecdysis) yang diawali dengan pelepasan crustacean cardioaktive peptide (CCAP), hormon eclosion dan ecdysis-triggering hormone, yang bersama-sama bertindak atas sejumlah target dalam memastikan selesainya proses molting (Hsu, 1991; Klowden, 2007). Hormon Eclosion (EH) menginisiasi pelepasan CCAP dari sel-sel ventral ganglion yang menonaktifkan perilaku pre-ecdysis dan bersama-sama dengan EH mengaktifkan perilaku ecdysis. CCAP bertanggung jawab sebagai motor pemicu dalam menyelesaikan ecdysis. EH juga terlibat dalam bursicon untuk pengerasan kutikula (Klowden, 2007). Setelah proses molting selesai, kegiatan makan dilanjutkan kembali dan deposisi endocuticular terus berlanjut selama periode intermolt (Dhadialla et al., 1997).

    Saturday, January 29, 2011

    INTERAKSI ANTARA MANGSA DAN PEMANGSA: INTERAKSI ANTARA KELINCI DAN RUBAH MERAH (INTERACTIONS BETWEEN RABBIT AND RED FOX)


    Yos F. da Lopes

    Jurusan Manajemen Pertanian Lahan Kering (MPLK) Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Jl. Adisucipto Penfui P. O. Box. 1152 Kupang 85011 - Nusa Tenggara Timur

    Pemahaman tentang ekologi tidak lepas dari pemahaman ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan faktor biotik, serta interaksi atau hubungan yang terjadi diantara komponen-komponen penyusun tersebut. Interaksi antara kelinci dan rubah merupakan interaksi atau hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator) yang mana hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa (Holsinger, 2009; McGinley, 2009).

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: HESPERIIDAE


    Deskripsi Singkat:
    • Karakteristik: Crochets pada proleg berbentuk ellips, menyempit.
    • Terdapat sekitar 3000 species.
    • Kepala lebih besar dari prothorax dengan leher yang menyempit, sehingga mudah dikenali. Tubuhnya melebar pada bagian tengah kemudian menyempit ke bagian ujung.
    • Menggulung daun, memakan tanaman dan rumput.
    • Tipe larva eruciform/polipoda

    Referensi:

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE


    Deskripsi Singkat:
    • Karakteristik: tubecle VII pada meso-dan metatoraks dengan 1 setae.
    • Terdapat sekitar 20.000 species.
    • Dikenal dengan nama army worms, cut worms, dan lain-lain.
    • Tipe larva eruciform/polipoda

    Referensi:

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: PSYCHIDAE


    Deskripsi Singkat:
    • Karakteristik: phrotoracic spirakel dengan axis horisontal yang panjang.
    • Membuat kantung dari daun, ranting, atau sampah lainnya
    • Memakan daun, bunga bahkan kulit tanaman/tumbuhan.
    • Tipe larva eruciform/polipoda

    Referensi:

    Author:
    Yos F. da Lopes. Copyright © 2011. Last updated 09 February 2011.
    Jurusan MPLK – Politeknik Pertanian Negeri Kupang Jalan Adisucipto Penfui P.O. Box 1152 Kupang 85001 Email: brench_copa76@yahoo.com

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: NYMPHALIDAE


    Deskripsi Sungkat:
    • Karakteristik: kepala angular, dorsal berduri, atau abdomen dengan beberapa duri mid-dorsal; crochets pada proleg triordinal.
    • Terdapat sekitar 4000 species.
    • Larva biasanya berduri namun ada beberapa tidak berduri.
    • Tipe larva eruciform/polipoda

    Referensi:

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: LYMANTRIIDAE


    Deskripsi Singkat:
    • Karakteristik: tubercle ke-4  hampir sama dengan pada segmen abdomen ke-6, 7, dan 8; terdapat kelenjar mid-dorsal pada ruas abdomen ke-2.
    • Merupakan perusak daun berbagai jenis tumbuhan dan pohon.
    • Tipe larva eruciform/polipoda

    Referensi:

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: PYRALIDAE


    Deskripsi Singkat:
    • Karakteristik: prespiraculat wart prothoraks dengan 2 setae
    • Terdapat sekitar 10.000 species
    • Larva fitofagus dan kadang memakan bahan sayuran yang kering 
    • Tipe larva eruciform/polipoda

    Referensi:

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: ARCTIIDAE


    Deskripsi Singkat:
    • Karakteristik: tubercle ke-3 dengan satu atau dua setae.
    • Tubuhnya ditutupi bulu-bulu berwarna coklat kemerahan  dan hitam.
    • Memakan berbagai jenis tumbuhan.
    • Tipe larva eruciform/polipoda 

    Referensi:

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: GEOMETRIDAE


    Deskripsi Singkat:
    • Karakterikstik: Abdominal proleg kurang dari 4 pasang; kadang anal proleks tereduksi.
    • Berukuran sekitar 2,5 cm atau 1 inci panjangnya.
    • Warnanyan cenderung menjadi hijau, abu-abu, atau kecoklatan dan bersembunyi dari pemangsa dengan menyesuaikan warna sesuai tempatnya beradam
    • Ulat jarang berbulu, makan daun, bunga atau serbuk sari.
    • Terdapat sekitar 2.000 species.
    • Disebut loopers, measuring worms, span worms, atau ulat jengkal, berdasarkan gerakannya. Gerakannya menjengkal disebabkan karena tidak adanya proleg pada bagian tengah abdomen tubuhnya, dengan hanya 2 atau tiga pasang pada ujung abdomen tubuhnya.  
    • Tipe larva eruciform/polipoda

    Referensi:

    PRADEWASA LEPIDOPTERA: LIMACODIDAE




    Deskripsi Singkat:
    • Karakteristik: Kepala retracted (dapat dikeluar-masukan); tubuh sering berduri atau rambut-rambut sekunder; setae utama usang; tubuh dengan incisures jelas dan biasanya dengan lubang yang mencolok.
    • Terdapat sekitar 950 species teridentifikasi.
    • Larva slung-like dan dikenal dengan slung-catterpillars.
    • Tubuhnya terdapat tubercle dan rambut-rambut yang beracun dan pedas. 
    • Tipe larva platyform
    Referensi: